hutan Kota Palu (Arboretum)

Penulis : SURTINI, ST

PENDAHULUAN

Pada awal tahun 1990-an, seiring dengan memburuknya potensi hutan dan semakin memburuknya kondisi dilingkungan perkotaan baik karena pencemaran lingkungan dan dilain pihak disadarainya akan manfaat hutan di perkotaan terutama dengan ditetapkannya kewajiban membangun ruang terbuka hijau dan penataan ruang maka gagasan pembangunan hutan koa mulai dilaksanakan. Pembangunan hutan diperkotaan(selanjutnya disebut hutan kota) mulai dicanangkan Presiden RI pada Pekan Penghijauan Nasional(PPN) ke-30 tahun 1990 di Palu, Sulawesi Tengah. Pembangunan hutan kota mulai ditumbuhkan di 11 kota besar dengan diawali pembangunan hutan kota Jakarta seluas ±2,327 Ha (Suhardi,2001)
Untuk menguatkan kebijakan pembanguan hutan kota di setiap kota disetiap daerah diterbitkan Instruksi Menteri Dalam Negeri untuk menginstrusikan pembangunan hutan kota, termaksud sebagai salah satu indikator kota penyandang Adipura, penghargaan kota terbersih dan ternyaman aspek lingkungan hidup. Pembangunan hutan kota bertujuan untuk memperbaiki dan menjaga iklim mikro, nilai estetika dan fungsi resapan air, serta menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik perkotaan, sehingga fungsi utama hutan kota, yakni perlindungan ekosistem perkotaan dapat berjalan dengan optimal.
Dalam peranan fungsi dan jasa biologis, ekologis,dan hidrologis, pepohonan terbukti dan dinilai mampu meredam dan mengendalikan berbagai bentuk pencemaran. Selain berfungsi sebagai pelestarian lingkungan yaitu pengendali pencemaran udara dan air, hutan kota juga mempunyai fungsi lain yaitu fungsi estetika dan fungsi lansekap. Sehingga sangat tepat jika keberadaan hutan kota mendapat perhatian serius dalam pelaksanaan penghijauan perkotaan yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan.
Fungsi lansekap pada hutan kota meliputi fungsi fisik antara lain vegetasi sebagai unsur struktural berfungsi untuk perlindungan terhadap kondisi fisik alami sekitarnya seperti angin, sinar matahari, pemandangan yang kurang bagus dan terhadap bau. Penggunaan dalam unsur struktur ini ditentukan oleh ukuran dan bentuk kerapatan vegetasi. Kegunaan arsitektural vegetasi sangat penting di dalam tata ruang luar. Dengan struktur vegetasi kasar, sedang, dan halus dapat digunakan pada ruang luar untuk menghubungkan bangunan dengan tapak disekitarnya, menyatukan dan menyelaraskan lingkungan sekitar yang seolah tidak beraturan,memperkuat titik-titik dan area-area tertentu pada lansekap, mengurangi kekakuan unsur-unsur arsitektural yang keras dan membingkai pemandangan. Dalam hal ini vegatasi berfungsi sebagai pelengkap, pemersatu, penegas, pengenal, pelembut, dan pembingkai( Djamal Irwan,2004).
Fungsi lansekap yang meliputi fungsi sosial yaitu penataan vegetasi dalam hutan kota yang baik akan memberikan tempat interaksi sosial yang sangat produktif. Hutan kota dengan aneka vegetasinya mengandung nilai-nilai ilmiah yang dapat menjadi laboratorium hidup untuk sarana pendidikan dan peneliatian. Fungsi kesehatan, misalnya untuk terapi mata dan mental, serta fungsi rekreasi, olahraga, dan tempat berinteraksi sosial lainnya. Rekreasi erat kaitannya dengan estetika dan merupakan bagian dari hidup manusia yaitu berbagai kegiatan untuk mencari kesegaran mental dalam rangka memperbaiki semangat ( Djamal Irwan,2004).
Kota Palu yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Donggala berada di lembah dan kawasan Teluk Palu merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Jumlah penduduk Kota Palu yang terus meningkat dari waktu ke waktu akan memberikan implikkasi pada tingginya tekanan terhadap pemanfaatan ruang, sehingga penataan ruang kawasan perkotaan perlu mendapat perhatian khusus, terutama terkait dengan penyediaan kawasan hunian, fasilitas umum dan sosial serta ruang-ruang terbuka publik(open space) di perkotaan.
Sebagaimana disebutkanGrey dan Deneke (1978) bahwa hutan kota di negara bagian New York terdiri dari barisan pepohonan disepanjang jalan, gerombol vegetasi di taman – taman, termaksud jalur hijau di pinggir kota. Senada dengan yang dikemukakan oleh Djamal Irwan(2004) bahwa hutan kota adalah komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya yang tumbuh di lahan kota atau sekitarnya, berbentuk jalur, menyebar, atau bergerombol (menumpuk), strukturnya meniru (menyerupai) hutan alam, membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa liar dan menimbulkan lingkungan sehat, suasana nyaman, sejuk dan estetis. Dermikian pula hutan kota yang ada di Kota Palu. Hutan kota di Kota Palu terdiri dari barisan pepohonan sepanjang jalan, gerombol vegetasi di taman-taman, dan komunitas vegetasi yang tumbuh dilahan perkotaan dan meyerupai hutan alam.
Salah satu hutan kota di Kota Palu adalah Arboretum yang terletak di Kelurahan Talise, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu. Kawasan Arboretum memiliki luas ± 68,428 Ha, selain ditumbuhi bebagai macam vegetasi, menurut penelitian yang dilakukan oleh Lintar (2006) dalam kawasan tersebut juga hidup habitat lain yaitu burung Kapasan Sayap Putih yang merupakan salah satu burung edemik indonesia yang ada di Sulawesi Tengah. Namun sebagai salah hutan kota yang ada di Kota Palu kawasan tersebut tampak tidak terawat.
Kurangnya pengawasan pada kawasan tersebut mengakibatkan banyak pepohonan yang mati atau sengaja ditebang oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Selain itu di beberapa bagian digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Hal tersebut mengakibatkan menurunnya fungsi dan kualitas kawasan. Fenomena yang terjadi pembangunan lahan sekitar kawasan yang sangat meningkat mengancam hilangnya kawasan tersebut. Untuk menghindari hal tersebut maka perlu pengoptimalan fungsi kawasan untuk meningkatkan fungsi dan kualitas kawasan.
Dalam upaya pengoptimalisasian kawasan Arboretum sebagai hutan kota maka perlu penataan melalui pengaturan dan penempatan elemen dan fungsi lansekap secara tepat. Penataan ini dilakukan mengingat bahwa hutan kota mempunyai peran penting untuk peningkatan kualitas lingkungan kota sebagai ruang terbuka hijau untuk wadah komunikasi dan kontak antar warga kota.
Penataan ini mengacu pada Kepmen PU No. 387 tahun 1987 yang menetapkan bahwa fungsi ruang terbuka hijau harus dapat memenuhi fungsi kawasan penyeimbang, konservasi ekosistem dan pencipta iklim mikro (ekologis), sarana rekreasi, olahraga dan pelayanan umum (ekonomis), pembibitan, penelitian (edukatif), dan keindahan lansekap kota (estetis).

MASALAH :

bagaimana mewujudkan fungsi lansekap pada kawasan hutan kota di palu sehingga dapat berfungsi secara optimal.

TUJUAN :

Mewujudkan penataan fungsi lansekap kawasan hutan kota Kota Palu agar dapat berfungsi sebagai kawasan rekreasi yang menarik, yang dilengkapi dengan elemen- elemen penunjang sebagai ruang terbuka hijau aktif tanpa menghilangkan fungsi utama dari hutan kota

SASARAN :

terwujudnya penataan kawasan hutan kota Kota Palu sebagai kawasan rekreasi yang menarik dan sarat dengan muatan ilmiah yang dilengkapi dengan elemen- elemen penunjang agar dapat dimanfaatkan oleh warga kota secara langsung yang dirancang sesuai dengan standar perancangan.

Tinggalkan komentar

Filed under Blogroll

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s