Ruang terbuka dan arsitektur

Gambaran Umum Ruang Terbuka Kota Palu
Ruang terbuka dalam kawasan permukiman perkotaan merupakan hal yang mutlak. Dikarenakan ruang publik sebagai eksterior kota yang sekaligus dapat meningkatkan kualitas citra kota.
Ruang terbuka publik terkesan sebagai ruang sisa. Padahal di kota-kota besar dimana keberadaan ruang terbuka publik kota sejajar dengan bangunan karena merupakan bahagian dari bangunan di sekitarnya. Sehingga keberadaan ruang terbuka akan menambah karismatik bangunan.
Di kota Palu ketersediaan ruang terbuka dapat ditemukan di beberapa tempat seperti ruang terbuka hijau (arboretum tanah runtuh), lapangan Vatulemo, taman Budaya (dahulu taman GOR), taman nasional, taman Lasoso, dan beberapa taman kota yang mempunyai fungsi bermacam-macam. Ruang terbuka tersebut merupakan tempat berinteraksi masyarakat kota Palu.

a) Lapangan/Taman Vatu lemo.
Lapangan vatu lemo termasuk dalam tipe ruang terbuka /lapangan pusat kota (central square). Pada hari-hari biasa, ruang terbuka dikunjungi masyarakat kota Palu pada sore-malam hari. aktivitas formal sering terlihat pada pagi hari yang dilakukan oleh instansi, karena tempatnya berada di sekitar kawasan perkantoran. Sedangkan masyarakat melakukan aktivitas pada sore hari, olah raga, jalan-jalan. Pada hari-hari libur nasional lapangan nasional dipakai untuk kegiatan upacara 17 Agustus, hari raya idul fitri, dan kegiatan formal lainnya.
Ruang terbuka ini bersifat publik, namun Lokasi lapangan vatu lemo yang terletak di sebelah timur kota sehingga masyarakat yang berkunjung adalah masyarakat Palu timur dan sekitarnya. Berdasarkan pengamatan lapangan, bahwa lokasi ini setiap harinya dikunjungi ± 100 orang, padahal daya tampung ruang terbuka ini bisa mencapai ± 20.000 orang.

b) Taman Budaya (GOR)
Ruang terbuka ini merupakan taman pusat kota (downtown parks). Ruang terbuka ini juga sering dikunjungi oleh masyarakat kota karena tempatnya berada di pusat kota Palu. Aktivitas di taman budaya biasanya terjadi dari pagi sampai dengan malam hari. Aktivitas olah raga, rekreasi, biasanya terlihat di ruang terbuka ini. Sebagai mana umumnya ruang terbuka, pengunjung remaja mendominasi penggunaan ruang terbuka ini, pertunjukan musik, seni dan kegiatan kepemudaan lainnya menyerap pengunjung remaja ke taman budaya.
Ruang terbuka ini bersifat publik, karena dapat di akses oleh pengunjung dari berbagai sudut kota ini. Ruang terbuka ini cukup nyaman dikunjungi oleh masyarakat karena penataan landscape yang cukup baik sehingga keberadaan ruang terbuka ini juga berfungsi sebagai paru-paru kota. Namun karena keterbatasan lahan sehingga ruang terbuka ini tidak dapat mencukupi kebutuhan ruang terbuka bagi penduduk kota.
c) Taman Nasional
Taman nasional adalah ruang terbuka tipe taman pusat kota, karena luasannya lebih kecil dari taman pusat kota. Aktivitas di taman Nasional adalah olah raga, rekreasi. Potensi ruang terbuka ini cukup baik sebagai ruang terbuka publik, karena keterbatasan lahan menjadi faktor penghambat untuk pengembangan ruang terbuka ini.

d) Taman Lasoso
Taman lasoso termasuk dalam tipe ruang terbuka/taman pusat kota (downtown parks). Pada hari-hari biasa, ruang terbuka dikunjungi masyarakat kota Palu pada sore-malam hari. Aktivitas masyarakat terjadi pada siang dan malam hari, yaitu aktivitas rekreasi.
Ruang terbuka ini juga bersifat publik, karena lokasi taman lasoso yang terletak di pinggiran kota sehingga masyarakat yang berkunjung adalah masyarakat sekitarnya. Berdasarkan pengamatan lapangan, bahwa lokasi ini setiap harinya dikunjungi pelajar dan remaja disekitar tempat tersebut.

e) Arboretum Tanah Runtuh
Arboretum adalah hutan kota. Ruang terbuka ini termasuk dalam tipe ruang terbuka /taman pusat kota. ruang terbuka kurang dikunjungi masyarakat kota Palu. Fungsi arboretum tanah runtuh adalah sebagai ruang terbuka hijau, sebagai kawasan penyangga (buffer). Luasan ruang terbuka ini cukup menampung ½ kebutuhan ruang terbuka hijau kota.
Ruang terbuka ini bersifat publik, namun lokasi arboretum yang tidak dapat diakses oleh semua masyarakat sehingga masyarakat yang berkunjung adalah masyarakat yang melakukan penelitian saja.

F). Pantai Talise
pantai Talise, sekarang bukan lagi menjadi milik masyarakat Talise, Besusu dan sekitarnya akan tetapi sudah menjadi milik masyarakat kota Palu bahkan para wisatawan yang datang ke kota Palu. Karena letaknya yang berada di pusat kota memudahkan masyarakat untuk mencapai lokasi tersebut. Sehingga pemilihan lokasi ini didasarkan pengamatan dan beberapa faktor yang dapat mendukung pantai Talise sebagai ruang terbuka publik kota Palu.

Gambar 4.1 Peta sebaran ruang terbuka di kota Palu

Lokasi yang menjadi kawasan studi dahulunya adalah kawasan permukiman, sesuai dengan perkembangan kota Palu, maka kawasan tersebut ditetapkan sebagai kawasan wisata. Hal tersebut tertera dalam rencana umum tata ruang kota Palu tahun 1999-2006 kemudian Peraturan daerah (Perda) Kota Palu No.17 Tahun 2000 Lokasi penelitian terletak diwilayah administrasi kelurahan Talise dan kelurahan Besusu barat.

Tinggalkan komentar

Filed under Blogroll

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s